Forum Calon Mentor di Kekaisaran Mentor

Hari Sabtu kemarin adalah hari pertama diklat divisi mentor OSKM 2017. Peserta diklat dibariskan di depan ATM Center untuk kemudian dimobilisasi ke lapangan cinta. Di lapangan ini, peserta dikenalkan dengan tema diklat mentor tahun ini dan perangkat-perangkatnya. Saya tidak akan membicarakan tentang perkenalan. Jika ada yang ingin tau lebih lanjut tentang temanya, dapat membaca tulisan teman saya ini.

Setelah perkenalan, camen (calon mentor) kemudian dimobilisasi ke lapangan seni rupa untuk melaksanakan Sekmen (Sekolah mentor). Jujur, Sekmen sangatlah menarik buatku. Sistem diskusi melingkar dan suasana yang terjadi sangat efektif dalam penyampaian materi. Interaksi yang terjadi antara pendiklat dan camen yang dibumbui dengan canda sangat menyenangkan. Saya jadi tertarik mengenai materi yang akan disampaikan pendiklat untuk beberapa hari kedepan.

Siang harinya, Kami camen seangkatan dikumpulkan di lapangan cinta untuk melakukan forum, membahas spek yang kami bawa dan beberapa pertanyaan dari Kaisar dan Senat. Saya mendapat sesuatu yang menurut saya penting dari forum ini.

Saya merasa senang. Saya senang mengetahui bagaimana kritisnya angkatan saya dalam memecahkan masalah. Bukan hanya kritis saja, beberapa juga menyampaikan solusi yang bagus. Misalnya saja, saat pendiklat bertanya tentang nametag yang dikhawatirkan rusak karena ada lubang di bagian kertas (jika terkena air), teman-teman saya berhasil menemukan solusi yang lebih baik ketimbang membuat nametag yang baru. Kemudian saat pendiklat keberatan mengenai usulan jumlah kehadiran camen pertemuan selanjutnya – yaitu 380 camen menimbang berbagai hal -, salah satu dari kami malah ada yang mempunyai usul menarik yaitu 381 camen hahaha…

Akan tetapi, Saya merasa kalau kami masih perlu belajar lebih banyak lagi tentang ke-mentor-an. Kenapa ? Banyak diantara kami yang mengajukan saran atau argumen masih terbawa emosi. Tujuan argumen-argumen yang dilontarkan malah terlihat bertujuan untuk saling menjatuhkan, bukan untuk menemukan solusi yang lebih baik. Kemudian, sebagian dari kami masih ada yang menertawakan pendapat atau argumen yang disampaikan. Entah mereka menertawakan argumen atau orang yang berargumen, kedua hal itu sama saja tidak menunjukkan salah dua dari definisi dan peran mentor. Pertama penjamin materi, salah satu poinnya adalah mentor harus memahami pengetahuan kepribadian manusia dan teknik penyampaian materi. Kedua, mentor sebagai pribadi yang berkembang. Poinnya yaitu mentor harus memiliki kerendahan hati serta menunjukkan sikap-sikap budi pekerti yang luhur. Kedua hal itu menurut Saya belum kami miliki.

Mungkin Kita masih belum bisa menjalankan definisi dan peran mentor dengan baik karena ini baru hari pertama sekmen. Namun, ada baiknya kalau mulai dari sekarang Kita berusaha menjalankan definisi dan peran mentor yang ada. Catatan, Saya sengaja untuk tidak menyertakan contoh argumen-argumen emosi dan yang ditertawakan karena mempertimbangkan perasaan orang yang berargumen atau yang ditertawakan. Lebih baik, hal ini sebagai pembelajaran Kita bersama. Sekian, terimakasih.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s