Kekuasaan, Kedamaian, Cinta, dan Negeri Impian

Negara Kesatuan Republik Indonesia ini telah melewati banyak peristiwa. Peristiwa-peristiwa itulah yang membuatnya menjadi seperti sekarang, sama seperti manusia. Tahun 1945, Indonesia berhasil meruntuhkan imperialisme belanda. Tahun, 1965, Indonesia berhasil menghilangkan Partai Komunis Indonesia. Tahun 1998, Indonesia berhasil menurunkan rezim orde baru.

Sebagian bangga akan sejarah Indonesia yang berwarna itu, sebagian lagi malu dan takut lalu berusaha melupakannya.

Tapi, apakah benar peristiwa-peristiwa itu merubah Indonesia? Mentransisikan Indonesia?

Sebelum 1945, imperialisme belanda menaruh kekuasaanya di Indonesia. Mengatur segala kegiatan yang ada di nusantara. Selama tiga ratus tahun Indonesia hidup sebagai sapi perah. Setelah revolusi industri yang dilanjut dengan perang dunia satu, ekonomi dunia mengalami goncangan. Kapital dunia menjadi tidak stabil. Untuk menanggulangi hal itu agar tidak berpengaruh di Hindi Belanda, imperialisme belanda mencoba untuk menaikkan pajak, menghukum rakyat dengan lebih keras lagi, dan melaksanakan politik etis.

Namun, apapun yang dilakukan imperialisme belanda, Hindia Belanda sudah menjadi kapal pecah yang siap tenggelam hanya menunggu waktu. Banyak perlawanan yang timbul untuk menggulingkan imperialisme belanda. Hingga ada beberapa perlawanan yang dapat menghimpun kekuasaan melebihi kekuasaan imperialisme belanda, lalu merdekalah Indonesia.

Setelah kemerdekaan, beberapa kekuasaan yang memerdekakan Indonesia mengalami tantangan oleh kekuasaan lain. Hingga kekuasaan lain itu melebihi kekuasaan yang satunya, timbulah revolusi yang baru.

Terus berjalan seperti itu, kekuasaan dilawan dengan kekuasaan, lalu timbulah revolusi dengan kekuasaan yang baru. Sebenarnya, bukan hanya di Indonesia saja, seluruh bidang kegiatan apapun dan di belahan dunia manapun pasti menaati ini, seperti sudah menjadi hukum alam.

Hal itu, kekuasaan melawan kekuasaan, pertama kali dirumuskan oleh Hegel. Hegel menamakannya dialektika. Dialektika Hegel hanya sebatas dalam dunia pikiran atau ide, ide yang satu melawan ide yang lain. Adalah Marx yang membawanya ke realita, material. Tujuan akhirnya adalah mencapai sebuah ide atau keadaan yang hampir mendekati sempurna.

Akan tetapi, dalam konteks material, mustahil untuk mendapat negeri utopia tersebut. Jika kekuasaan yang ada akan dilawankan dengan kekuasaan yang baru, dan seterusnya, negeri utopia yang aman dan tentram tidak akan pernah terjadi. Revolusi tidak lain hanyalah pengalihan kekuasaan dari yang satu ke yang lain.

Tujuan utama dari adanya sebuah negara ialah membuat warganya aman, nyaman dan tentram. Namun jika yang terjadi hanya seperti yang saya sebutkan diatas, negara tidak lain hanyalah sebagai tempat seleksi alam. Dimana mereka yang dapat bertahan terhadap lingkunganlah yang dapat hidup.

Menurut Orwell, dalam bukunya “1984”, masyarakat dibagi menjadi tiga tingkatan, tinggi, menengah, dan rendah. Tujuan kebanyakan dari masing-masing tinkatan itu ialah sebagai berikut; Tinggi bertujuan untuk mempertahankan kekuasaannya. Mereka adalah masyarakat yang hidup enak meski sedang dilanda krisis. Menengah bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan yang dimiliki oleh tinggi. Mereka adalah benih-benih kekuasaan baru yang siap untuk menggulingkan tinggi. Untuk itu mereka membutuhkan bantuan rendah. Rendah bertujuan untuk menggulingkan tinggi lalu terbebas dari kehidupan yang menyengsarakannya.

Revolusi adalah peristiwa jatuhnya tinggi oleh menengah dan rendah sehingga menimbulkan kekusaan baru. Tinggi terlempar menjadi menengah, namun ada juga yang tetap tinggi. Menengah naik menjadi tinggi. Rendah, yang bertujuan untuk menggulingkan tinggi tidak beranjak dari tempatnya.

“Mereka sadar bahwa pergantian tuan besar hanyalah berarti bahwa mereka akan melakukan pekerjaan yang persis sama dengan sebelumnya untuk majikan baru, yang perlakuannya terhadap mereka juga akan sama saja dengan majikan-majikan sebelumnya” – George Orwell

Jelas sekali, untuk mendapat negeri yang utopia itu, bukanlah kekuasaan yang kita butuhkan. Cintalah yang kita butuhkan. Silahkan tertawa sesuka hati kalian, namun memang untuk mencapai utopia itu, dengan masyarakatnya yang penuh cinta, memang cintalah yang dibutuhkan.

Cinta yang dimaksud bukanlah cinta untuk memiliki atau cinta di jalan nafsu. Cinta sejati yaitu kasih Tuhan kepada ciptaanya.

Manusia hanya bisa mendekati cinta itu, yaitu cinta seorang ibu kepada bayinya. Meskipun bayi itu menangis, menginginkan sesuatu, atau marah, sang ibu tidak pernah membenci bayinya. Meskipun bayinya belum bisa bicara, sang ibu akan berusaha untuk mengerti apa yang diinginkan bayinya.

Cinta seperti itulah yang dunia ini butuhkan. Bukan kekuasaan yang menimbulkan rantai penderitaan. Sebuah pergerakan dari bawah ke atas. Memang ini tidak bisa disebut revolusi yang instan. Perlu waktu untuk mewujudkan dunia ini.

Namun apalah arti waktu? Saya mengambil dari Orwell lagi. Aku sebenarnya adalah orang mati, yang tidak pantas menikmati dunia masa depan. Anak-anakku, cucu-cucukku, dan anak-anak kitalah yang pantas hidup di masa depan.

“Kamu ini orang mati; milik merekalah hari depan. Tetapi, kau bisa ikut memberikan andil bagi hari depan itu kalau kau jaga pikiranmu tetap hidup sebagaimana mereka menjaga raga mereka tetap hidup” – George Orwell

Seorang anak kecil pernah memberikan sebuah kartu kepadaku dalam sebuah acara. Kartu itu bertuliskan

“Treat everyone with kindness and politeness, not because they are nice, but because you are”.

Sumber literasi :

Sumber gambar :

  • Teman Saya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s