Negara Kesatuan Republik Indonesia

Alhamdulillahi Robbil’alamin, ijinkanlah saya memulai ini dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah berkenan memerdekakan kita. Kemerdekaan Indonesia sendiri tidak dapat kita pisahkan dari Imperialisme Belanda. Sebab, Hal utama yang memotivasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kesamaan penderitaan rakyat dari berbagai wilayah. suku, dan agama terhadap Imperialisme Belanda. Sama-sama memiliki musuh yang sama adalah kata yang tepat. Perbudakan rakyat juga membuat kita bermimpi akan adanya sebuah negara yang rakyatnya memiliki kekuasaan sendiri dan kebebasan tersendiri. Mimpi itu kemudian dijadikan salah satu alasan Indonesia menjadi negara demokrasi.

Konsep negara demokrasi sudah ada jauh-jauh hari. Namun, belum ada satu negara yang menggunakan konsep negara demokrasi murni. Demokrasi murni membutuhkan kesamaan semua elemen dan pengikutsertaan semua elemen tersebut, bukan dengan suatu perwakilan. Akan sulit membentuk negara demokrasi yang murni.

Kritik terhadap demokrasi terus bergulir dari masa ke masa. Seperti yang dikatakan Socrates, negara demokrasi tanpa rakyat yang cerdas ialah percuma. Negara hanya akan dipimpin oleh orang-orang bodoh yang menang karena kepopuleran. Ditambah lagi, mendirikan negara demokrasi diatas tanah-tanah yang berbeda seperti Indonesia adalah hal yang sulit. Konflik kelompok atau wilayah tidak dapat dihindari.

Akan tetapi, bukan berarti kita harus meninggalkan cita-cita negara demokrasi begitu saja. Demokrasi memiliki tujuan yang baik, menginginkan sebuah kesetaraan berpendapat untuk semuua individu. Oleh karena iu, ada dua hal yang harus dicapai agar kesetaraan berpendapat itu terpenuhi.

Pertama ialah media yang cerdas, termasuk media sosial. Media sudah tidak dapat kita pisahkan lagi dari dunia kita. Setiap kita pergi tidur atau bangun tidur, hal pertama yang kita lakukan ialah melihat kabar dunia saat ini melalui smartphone. Namun, media adalah pedang bermata dua. Kita menjadi tidak bermuhasabah saat akan tidur atau berbincang dengan suami atau istri kita demi memegang smartphone. Menyalahkan kemajuan teknologi dalam hal ini ialah kurang bijak, kemajuan teknologi tidak dapat kita bendung. Cara kita berinteraksi dengan teknologilah yang harus dipermasalahkan.

Media juga merupakan suatu usaha, mereka membutuhkan uang untuk bertahan. Sebuah alasan kenapa media sering menaruh headline-headline artis atau konflik karena hal itu menarik manusia. Kita yang melihat headline itupun menjadi tertarik dan membacanya. Dengan mudahnya media dapat mengeksploitasi pikiran kita dan menampilkan hal yang menarik untuk kita. Hal yang menarik bagi kita belum tentu penting bagi kita. Konten berita seperti kemajuan pendidikan atau penemuan sains terbaru akan kalah dengan konten skandal artis, keburukan politikus, atau konflik sara.

Media membentuk manusia. Media dapat mengarahkan manusia seperti yang mereka inginkan. Hal yang baik dan buruk dapat dengan mudah media buat. Contohnya, banyaknya berita kebencian akan suatu kelompok membuat kita mengikuti membenci kelompok itu. Hal yang diberitakan terus-menerus dengan mudahnya akan menjadi hal yang lumrah.

Ada alasan kenapa media disebut “News”. Media mengumumkan berita-berita terbaru dan dianggap penting. Media membentuk persepsi bahwa hal yang baru itu penting. Jika kita tertinggal akan suatu hal baru, kita akan dianggap kurang update atau bisa juga bodoh. Fear of Missing Out menyebar kemana-mana. Padahal, kita juga harus melihat ke belakang untuk menjadi lebih bijak lagi. Melihat sejarah untuk mengetahui dasar tiap hal, untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, dan untuk mencapai kebijaksanaan. Dengan hanya membaca media tanpa mengetahui sejarah, kita menjadi orang yang tau segalanya, namun mengerti sedikit.

Dapat kita ketahui, media memiliki peran yang sangat penting dalam suatu negara. Daya kekuatan media bukan pada jumlah atau senjata yang dimilikinya, melainkan kekuatan mengarahkan massa. Oleh karena itu, sangat penting untuk media memberitakan hal yang sebenarnya dan mengarahkan pembacanya kepada tindakkan yang postif.

Hal kedua yang menjadi penentu keberhasilan demokrasi ialah sifat mengerti orang lain. Kebebasan berpendapat menyebabkan banyak sekali tulisan-tulisan dan pendapat bertebaran. Pendapat itu juga menyebar melalui media sosial yang sudah kita ketahui tadi. Dari pendapat-pendapat itu, tak jarang perbedaan pendapat terjadi. Masalahnya, sering sekali perbedaan pendapat itu berujung pada perseturuan atau beberapa orang menjadi offended. Tidak bijak jika kita menyalahkan kebebasan berpendapat dan perbedaan pendapat. Masalah utamannya terletak pada bagaimana kita mengerti orang lain. Baik orang yang berpendapat ataupun menerima pendapat haruslah mengerti ini.

Kebanyakan dari kita akan berusaha melawan pendapat yang bertentangan dengan kita daripada berusaha untuk mengerti pendapat itu. Kita berpikiran bahwa setiap perbedaan pendapat haruslah diselesaikan dengan suatu kesepakatan supaya tidak ada perrmasalahan lagi. Kita terus mencari solusinnya walaupun kedua pihak telah berperang dan mati. Jarang sekali kita berpikiran untuk hidup dengan perbedaan, sebagai masyarakat sipil yang hidup bersama.

Keberhasilan komunikasi juga penting untuk mengerti orang lain. Kita marah karena orang lain melakukan A, hal yang kita tidak sukai. Padahal, belum tentu orang yang kita marahi bermaksud untuk melakukan A. Bisa saja dia bemaksud melakukan B, hal yang kita inginkan. Sikap seperti itu dapat dibilang sumbu pendek. Kita terlalu memperlakukan orang lain seperti orang dewasa, dimana kita akan kaku untuk berkomunikasi. Ada baiknya jika kita memperlakukan orang lain seperti bayi, dimana saat mereka menangis, menginginkan sesuatu, atau marah, kita akan berusaha mengerti apa yang mereka inginkan, yang akhirnya akan membuat kita tidak akan marah terhadap mereka.

Terkahir, saya akan mengutip sebuah kalimat karangan Mpu Tantutlar di Kakawin Sutasoma.

Hyang Buddha tanpahi Civa rajadeva

Rwaneka dhati vinuvus vara Buddha Visva,

Bhimukti rakta ring apan kena parvvanosen,

Mangka ng Jinatva kalavan Civatatva tunggal,

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Arti :

Hyang Buddha tiada berbeda dengan Syiwa Mahadewa

Keduanya itu merupakan sesuatu yang satu

Tiada mungkin memisahkan satu dengan lainnya

Karena hyang agama Buddha dan hyang agama Syiwa sesungguhnya tunggal

Keduanya memang hanya satu, tiada dharma yang mendua

.

.

Berbeda-beda tetapi tetap satu…

#IndonesiaTetapBersatu

14968050181891496805130831

Cari tau lebih lanjut:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s