Bumi Manusia

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” – Pramoedya Ananta Toer

Minke, seorang laki-laki pribumi,  dimanfaatkan teman sekolahnya untuk bertemu dengan Annelies, gadis cantik, anggun, dan kaku keturunan Indonesia-Belanda. Minke sendiri bukan nama asli orang itu. Ia menggunakannya karena itulah panggilannya di sekolah, baik oleh temannya maupun gurunya. Namun yang terjadi, Minke dan Annelies malah jatuh cinta satu sama lain. Dalam perjalanan cintanya, Minke akan dihadapkan dengan berbagai masalah yang akan membuatnya mengerti akan tujuannya menulis. Minke akan mengerti apa artinya mencintai seseorang. Minke juga akan meengerti tentang arti dari perjuangan.

Novel Roman ini ditulis oleh Pram dengan bahasa yang dapat membuat pembaca merasa ingin tahu bagian selanjutnya. Diawal cerita memang terlihat sulit atau berat untuk dibaca apalagi oleh pemula. Namun seiring berjalannya waktu, kata demi kata yang dituliskan Pram membuat pembaca merasa berada di dalam cerita. Tidak heran bahwa Pram banyak mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Bahkan, Pram sempat menjadi calon nominasi nobel satra, satu-satunya orang Indonesia yang dapat hampir menembus penghargaan nobel. Novel ini juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.

Novel ini merupakan satu bagian dari Tetralogi Buru, ditulis Pram saat dirinya menjalani hukuman di penjara Buru tahun 1980. Pram dihukum atas tuduhan mengikuti partai Komunis. Novel Bumi Manusia ini juga sempat dilarang terbit oleh pemerintah beberapa kali. Cerita ini diambil Pram dari tokoh pahlawan nasional Tirto Adi Suryo. Tirto Adi Suryo merupakan orang yang pertama kali mempelopori tumbuhnya pers di Indonesia dengan pribumi.

Pendapat Penulis :

Novel ini merupakan satu bagian dari Tetralogi Buru dan merupakan pengenalan akan perjuangan Tirto Adi Suryo. Novel ini mengajari kita akan pentingnya menulis dan untuk apa kita menulis. Sudah banyak rakyat dunia terutama Indonesia yang melupakan budaya literasi. Kita disibukkan dengan berbagai macam aktivitas seperti bekerja dan sekolah sehingga kita melupakan literasi. Tak heran jika belakangan ini banyak tersebar berbagai berita hoax. Dampak dari berkurangnya budaya literasi adalah rakyat meenjadi bersumbu pendek. Lihat saja di media-media sosial, betapa pendeknya sumbu rakyat dan betapa lemah setiap argumen rakyat.

Untuk penulis, novel ini merupakan bacaan wajib untuk setiap Warga Negara Indonesia. Jangan karena Pram dituduh menjadi anggota komunis kemudian kita tidak lagi membaca karyanya. Jika seperti itu, artinya kita menutup diri dan dalam Islam menutup diri adalah hal yang tidak diperbolehkan, kurasa bukan dalam Islam saja. Untuk menilai suatu hal, kita harus terlebih dahulu mempelajari hal yang akan kita nilai, dan cara mempelajari yang tepat adalah dari sumbernya secara langsung, bukan dari orang lain.

Untuk menutup tulisan ini, penulis akan mengutip salah satu kalimat dari Bumi Manusia

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Sumber: Bumi Manusia edisi 2005 dengan penerbit Lentera Dipantara.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s