Multatuli yang Tak Pernah Mati

Suatu hari, ada seorang makelar kopi dengan segala kecukupannya. Makelar kopi itu sangat religius. Setiap hari, dia akan keluar menerjang udara dingin perkotaan di musim dingin. Saat keluar, pakainnya lengkap menutupi tubuhnya. Dia sangat tertarik dengan hal yang berhubungan dengan kopi. Hingga akhirnya ia bertemu dengan kawan lamanya yang serba kekurangan. Perlu diketahui, kawan lamanya dulu pernah membantunya mengatasi suatu masalah. Apa yang dia lakukan?

Cerita tersebut merupakan sebuah penggalan dari sebuah cerita yang jauh lebih besar dan lebih spektakuler. Max Havelaar, itulah judul ceritanya, ditulis oleh Douwes Dekker dengan nama samarannya Multatuli atau dalam bahasa Indonesianya “yang tersakiti”, mulai dari sini Douwes Dekker akan penulis panggil Multatuli karena penulis yakin dia akan merasa lebih senang jika dipanggil Multatuli.

Saat pertama kali mendengar Max Havelaar, penulis mengira Max Havelaar adalah buku non-fiksi yang menceritakan segala kehidupan di Hindia-Belanda beserta fakta yang akurat untuk mendukungnya. Ternyata, setelah penulis menemukan Max Havelaar dan membacanya, Max Havelaar malahan berupa novel. Max Havelaar pun bukan seperti yang guru-guru sekolah kita katakan, yaitu karya yang efektif mengkritik pemerinah Belanda. Justru, masyarakat Belanda merasa ragu akan keaslian cerita Max Havelaar.Tapi memang itulah yang diharapkan Multatuli. Dia menulis

“Karena aku tidak bermaksud untuk menulis dengan baik …. Aku ingin menulis agar didengar. Sama seperti orang yang berteriak, “Berhenti pencuri!” tidak memedulikan gaya bicara spontan-nya kepada publik, aku juga tidak memedulikan kritik mengenai cara-ku berteriak”

Dia bahkan mengiyakan kritikan dari orang-orang sebelum buku ini dibaca oleh mereka dengan menulis

“Bagus! Bagus! …. Semuanya itu benar! … tapi orang Jawa diperlakukan dengan buruk!”

“Justru inilah kehebatan bukuku: gagassan-gagasan utamanya mustahil untuk dibantah. Dan, semakin besar ketidaksukaan orang terhadap bukuku, semakin aku merasa senang,karena kesempatan untuk didengarkan akan jauh lebih besar lagi. Dan, inilah yang kuinginkan”

Seperti kata Pramoedya bilang yang juga mengidolai tokoh ini

“Kisah yang ‘membunuh’kolonialisme”

Dia benar-benar mengkritik habis orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia tidak suka dengan orang-orang yang asalkan dirinya masuk surga, dia tidak peduli dengan lainnya.

Namun, biarkanlah saya mengkritik dirinya agar dia merasa lebih senang. Bahasa yang digunakan untuk versi terjemahan Bahasa Indonesiia ini cukup rumit mulanya, mungkin karena ini terjemahan. Alur cerita awalnya membingungkan, namun setelah kau mencengkeram alur ceritanya, ternyata menarik juga.

Tokoh Max Havelaar di dalamnya digambarkan sebagai sosokĀ  yang sangat ideal dan baik hati. Tidak mungkin kita menemukan sosok Max Havelaar di dunia nyata. Benar-benar sangat utopia tokoh ini, membuat pembaca merasa cerita yang ada di dalamnya begitu palsu. Mungkin Max Havelaar adalah sosok yang Multatuli inginkan di setiap manusia

Novel ini cenderung merupakan kritik terhadap masyarakat Belanda di Eropa yang serba tidak ingin terlibat masalah dahulu. Sekarang mungkin, Max Havelaar menjadi kritik untuk masyarakat Indonesia.

Kurasa cukup untuk mengatakan bahwa Multatuli tak pernah mati, ia akan terus ada untuk mengritik Droogstoppel dan Sjaalman.

Sumber:

– Terjemahan Bahasa Indonesia Max Havelaar, karya Multatuli.

– Gambar kopi dari Internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s