The Selfish Gene (Bukan Buku)

Pernahkah kalian memperoleh perlakuan yang tidak adil? Atau pernahkah kalian melihat suatu ketidakadilan? Sebenarnya apa ketidakadilan itu?

Hampir setiap hari ketidakadilan terjadi di bumi ini. Bullying yang terjadi di sekolah-sekolah, pengucilan seorang teman dari kelompok, pemusnahan suatu kaum, sampai perampasan hak oleh kaum kapitalis. Lalu, saat kita melihat suatu ketidakadilan, sebagian dari kita akan tergerak pikirannya untuk berduka dengan ketidakadilan itu atau bahkan melawan. Sungguh mulia pikiran manusia (sebagian) . Tapi kenapa kita bergerak?

Kita bergerak karena kita tidak ingin melihat ketidakadilan itu. Diri kita yang dibentuk oleh lingkungan sekitar kita, tidak cukup kuat untuk melihat ketidakadilan. Seseorang yang selalu berada di singgasana kemudian ia melihat ketidakadilan, (sebagian) akan merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya karena ia tak pernah melihat itu. Pikirannya belum terbuka terhadap segala yang ada di luar lingkungan pembentuknya. Mereka akan berpikir tidak sepantasnya hal itu terjadi. Hasilnya, dia akan berduka atau bahkan tergerak untuk menghentikannya saat dia melihat ketidakadilan.

Kita bergerak karena kita melihat sesuatu yang diluar prediksi kita. Jika kau melihat manusia-manusia tinggal di bawah jembatan atau dipinggir rel kereta api, (sebagian) kau akan merasa iba pada mereka. Kau berpikir itu tidak sepantasnya terjadi, kau berpikir ini salah seseorang. Sebenarnya, kau hanya melihat sesuatu yang kau kira tidak ada, ternyata ada. Sama halnya dengan rasa sedih. Saat kita melihat nilai ujian atau tes kita, kita mengharapkan suatu nilai yang memuaskan diri kita, tapi kita merasa sedih setelah melihat hasilnya.

Kita bergerak karena kita tidak ingin merasakan hal yang sama. Saat kita mendengar kabar bahwa ada seseorang yang tertimpa musibah, tanpa kita sadari, terdapat rasa bahagia karena bukan kita yang mengalaminya. Terdapat rasa syukur karena Tuhan tidak memberi kita bencana, kita bersedih memang, tapi rasa syukur itu mengalahkan rasa sedih. Lalu kita menolong orang itu sebagai ungkapan syukur bahwa kita masih memiliki lebih dari orang itu.

Manusia memang tidak adil. Jika kau hanya memiliki satu makanan, dan dijalan ada satu orang kelaparan dan satu ekor kucing yang kelaparan, siapa yang akan kau beri makanan? Kenapa kau memberi orang tersebut makan? Kau memberinya karena dia manusia, dia sama seperti dirimu. Kau memprioritaskan sesuatu yang sama dengan dirimu. Kau mengelus-mengelus kucing itu karena dia lucu. Kalau dia memiliki penyakit kulit, kau tidak akan mengelusnya, kau mengusirnya. Dalam pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia, siapa yang akan kau dukung? Mengapa? Dalam pertiakaian antar keluargamu dengan keluarga tetanggamu, siapa yang kau dukung? Kenapa? Manusia memang sudah tidak adil sejak lahir. Itulah yang membuat manusia dapat bertahan selama berjuta-juta tahun, gen yang selfish(belum baca).

Dapatkah kita, sebagai manusia melepaskan diri dari Negara? Dapatkah kita, sebagai manusia melepaskan diri dari Bumi ini? Dapatkah kita, sebagai manusia melepaskan diri dari hal yang beranama identitas? Lebih penting lagi, dapatkah kita melepaskan diri dari yang namanya ‘manusia’?

Entahlah

Sumber gambar: Saya ambil dari internet karena ada pilihan ‘save’ pada laptop saya.

Iklan

2 pemikiran pada “The Selfish Gene (Bukan Buku)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s