Fana (Jangan Dibaca!)

stop-sign-clipart-z7tam5xia

Jangan dibaca adalah judul yang tepat untuk tulisan ini. Soalnya tulisan ini sama sekali tidak ada intinya bahkan sekarang saya belum merencanakan akan menulis apa. Jadi, yang akan ada didalamnya adalah murni pemikiran saya tentang macam-macam hal selama saya menulis. Baik nanti akan lompat-lompat inti paragraf atau antar paragraf tidak nyambung. Baik, mari saya mulai.

Entah hanya diri ini yang merasa atau memang pendidikan sekarang sudah diorientasikan untuk mendapat nilai bagus dan untuk ‘bekal’ kerja. Iya kerja, kerja kemudian kaya, memiliki anak-istri, memiliki rumah, hidup enak, kemudian mati. Iya mati, hanya kurang lebih 80 tahun aku hidup di dunia fana yang telah ada berjuta-juta tahun lalu. Apa yang  kutinggalkan? Kejayaan? Kekayaan? Ilmu dunia? Untuk apa semua itu di dunia yang bahkan fana ini? Iya fana, dunia ini hanya hasil penerjemahan dari indera-indera ini, bukan diri ini yang melihat, mendengar, dan merasa, tapi mata, kuping, dan kulit saya yang bahkan jika dipikir-pikir juga merupakan kefanaan. Hanya dua hal tempat bersandar yang tepat bagi diri ini, pertama diri ini, yang kedua adalah pembentuk segala kefanaan ini. Ide tadi dicetus oleh Rene Descartes, dengan kalimatnya yang terkenal ‘Cogito ergo sum’ atau dalam bahasa inggris ‘I think, therefore I am’ atau dalam bahasa pribuminya ‘Aku berpikir, maka aku ada’. Yang katanya sudah terbantahkan karena dirinya juga fana menurut orang lain. Tapi bukankah orang lain itu fana? Bagaimana bisa kefanaan mefanakan sesuatu, aduh..

Cogito ergo sum membawa diri ini kepada permasalahan yang lebih rumit, GOD, sesuatu yang membuat segala kefanaan ini. Lepas dulu dari filsafat, biarkan diri ini melihat sains atau lebih menjurusnya fisika. Dahulu, orang percaya bahwa bumi ini pusat alam semesta dan matahari serta bulan mengitari matahari. Kemudian ada Copernicus yang menyatakan bahwa mataharilah pusat alam semesta dan bumi beserta bulan mengitari matahari. Ide ini hanya dianggap sebuah ‘dongeng’ untuk masyarakat waktu itu. Sampai akhirnya datanglah Galileo Galilei yang menganggapnya serius, dan begitu juga masyarakat yang menganggap Galilei serius. Galilei dituduh membawa ‘heresy’, dikucilkan, dan bahkan disuruh mengakui kesalhannya yang kita tau tidak salah. Ya, sama seperti Phytagoras-nya yunani atau Tirto Adhi Suryo-nya Indonesia, dia mati dengan kesengsaraan tapi dalam kebenaraan, mungkin baginya, dia tidak merasa sengsara karena berada pada jalan kebenaraan, tapi… ah balik lagi ke masalah tadi.

Sejak saat itulah masyarakat mulai menganggap bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dengan perhitungan, dapat diramal dengan perhitungan, dunia bagaikan jam dinding yang terus bergerak dengan rapih. Sejak saat itu pula penganut atheis bertambah(berasal dari kata a dan theis), sains mengalami kemajuan, revolusi industri, kemajuan filsafat tidak bisa mengimbangi kemakuan sains. Pendidikan juga berubah, pendidikan yang harusnya sebagai sarana untuk membuka rahasia dunia ini, menjadi sarana untuk bekerja, ilmu tidak penting yang penting adalah nilai, pendidikan untuk bekerja-kaya-mati, kapitalisme berkembang.

Ya.. ironi, namun… tahun awal abad ke 20, ditemukan cabang fisika baru yang akan membawa revolusi lagi(entah negatif lagi(menurut saya) atau positif) pada kehidupan manusia. Relativitas dan Mekanika Quantum. Dua ilmu yang kontras dengan perkataan bahwa dunia adalah jam dinding yang dapat diprediksi. Relativitas menghancurkan satu dasar fisika klasik, yaitu waktu itu absolut. Relativitas mengatakan bahwa waktu tidaklah absolut, setiap benda merasakan waktu yanng berbeda. Untuk kalian yang mengatakan relativitas bukan ilmu pasti atau tidak ada aplikasinya, maka kalian tidak pernah menggunakan GPS.

Untuk mekanika quantum mungkin akan saya tulis lain kali(akhirnya ada bahan hehe) karena sudah waktunya saya belajar sekarang hehe. Yang jelas, mekanika quantum menjelaskan bahwa kita tidak dapat meramalkan keadaan dunia ini, dunia ini seperti suatu organisme hidup yang dapat memilih takdirnya sendiri, tidak dapat diprediksi, dan merupakan pukulan berat untuk atheis(menurut saya).

Akhir kata, apakah penulis fana?

pillars_of_creation_2014_hst_wfc3-uvis_full-res_denoised

Dag!

Sumber gambar:

  • Tanda berhenti yang saya tidak tau saya ambil dari mana, yang jelas dijalanan juga ada.
  • Pillars of Creation(nama yang bagus) yang diambil oleh Hubble Space Telescope.
Iklan

2 pemikiran pada “Fana (Jangan Dibaca!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s