Kritik Sebagai Antithesis Sebuah Thesis

Kemajuan manusia memang luar biasa. Misalnya saja, mansuia yang awalnya tidak tahu akan roda, menjadi sangat bergantung akan roda. Semua kemajuan yang telah terjadi ini tidak bisa dilepas dari kata kritik.

Kritik merupakan salah satu hal yang sangat berjasa dalam kemajuan manusia. Seorang manusia membuat roda berbentuk persegi, kemudian ada orang lain yang mengkritiknya agar mengganti bentu roda itu supaya lebih mudah digunakan. Lama-kelamaan, seorang demi seorang, roda yang tadinya berbentuk persegi dan susah digerakkan, sekarang berbentuk bulat dan mudah digerakkan. Mungkin saja suatu saat akan ada seseorang yang mengubah bentuk roda bulat itu supaya lebih mudah digunakan lagi.

Inilah yang dinamakan dialektika. Sebuah proses memperbaiki kesalahan dari sebuah ide, dengan maksud agar kesalahan terbeut hilang. Dialektika pertama kali dicetuskan oleh Hegel, walaupun secara tidak langsung manusia dan alam ini telah menggunakannya sejak dari permulaan alam semesta. Hegel menamai ide dengan thesis, kritik dengan antithesis. Pertempuran thesis dan antithesis tersebut akan menghasilkan sinthesis, yaitu sebuah thesis baru namun telah lepas dari kesalahan dari thesis pertama, Kemudian thesis baru itu akan menemui antithesis lain dan akan terbentuk sinthesis lain, dan seterusnya.

Thesis, antithesis dan sinthesis telah digunakan di berbagai sektor kehidupan manusia. Mulai dari pendidikan, bisnis, dan politik. Contoh besarnya, pernahkah anda mendengar istilah kapitalisme dan komunisme? Komunisme ada sebagai antithesis dari kapitalisme. Komunisme dan kapitalisme tidak dapat berdiri sendiri. Seekor burung tidak akan bisa terbang jika hanya memiliki satu sayap, sama seperti dunia ini yang membutuhkan komunisme dan kapitalisme.

Oleh karena itu, sebuah negara yang sangat anti terhadap antithesis, sangat anti terhadap kritik tidak akan menjadi sebuah negara maju. Peran dari antithesis sangat dibutuhkan dalam keberlangsungan suatu negara, baik dari rakyat, buruh ataupun mahasiswa. Apakah adanya sebuah antithesis akan mengacaukan suatu negara? Tentu saja tidak. Seseorang yang bertugas sebagai pengatur keamanan suatu negara bukan betugas untuk melindungi thesis, melainkan melindungi proses dialektika.

Selain keamanan, proses dialektika ini juga harus dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat tertentu yang sangat setuju bahkan rela mati demi suatu ide yang tidak valid atau ide yang ditempeli kesalahan akan mengganggu keberjalanan dialektika, mereka itulah orang-orang yang menutup diri. Maka dari itu edukasilah masyarakat! Jangan bodohi masyarakat! Seorang poltikus harus mengerti ilmu filosofi terutama dialektika.

Kritik tanpa solusi juga sama berbobotnya dengan sebuah kritik. Sebuah kritik mengadu thesis dengan sebuah antithesis, kemudian mengajukan thesis baru, sedangkan kritik tanpa solusi mengadu thesis dengan antithesis untuk kemudian bersama-sama mencari thesis baru. Inilah demokrasi, bersama-sama mencari sinthesis! Jika sesorang melihat kesalahan lalu memberitahukannya kepada orang lain karena hanya dia yang melihat kesalahan itu, namun dirinya tidak mengetahui cara memperbaikinya, apakah dia salah? Karena memang, mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

Thesis sebagai sayap kanan, dan antithesis sebagai sayap kiri akan membuat suatu negara terbang mengejar tujuannya.

Sumber gambar: Kartu dalam permainan YU-GI-OH dengan nama Change of Heart.

Iklan

4 pemikiran pada “Kritik Sebagai Antithesis Sebuah Thesis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s