Memahami Arti Kedaulatan

Kepemimpinan tidak bisa kita lepaskan dari dunia ini. Mulai dari kumpulan singa yang bertahan hidup di Savana Afrika, kawanan burung yang terbang membentuk suatu formasi yang indah, hingga manusia yang berpikir, semuanya tidak bisa lepas dari kata kepemimpinan. Sebuah perusahaan memiliki seseorang yang membuat segala keputusan akhir, orang yang percaya akan adanya Tuhan tunduk pada perintah Tuhannya, orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan memilih logika sebagai pemimpinnya. Kepemimpinan itu timbul karena adanya suatu keinginan yang sama pada suatu kelompok atau golongan. Kepemimpinan ini yang pada akhirnya menciptakan kedaulatan.

Kedaulatan sering disamaartikan dengan Kepemimpinan. Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi, kekuasaan yang memutuskan suatu persoalan (Tan Malaka, Politik). Dalam sebuah kerajaan, sering kedaulatan itu berada di tangan raja( Ada juga penganut sistem kerajaan yang rajanya tidak memegang kedaulatan). Di Indonesia sendiri, kedaulatan itu berada di tangan rakyat. Bukan berada di tangan Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung ataupun Gubernur. Rakyatah yang menentukan segala kebijakan suatu negara. Sistem ini dianut oleh Indonesia karena pendiri-pendiri Indonesia sadar bahwa kedaulatan yang berada di tangan satu orang akan menimbulkan kekacauan. Lantas bagaimana caranya menyatukan kedaulatan rakyat yang terdiri atas berbagai lapisan individu? Terbentuklah Undang-Undang Dasar(UUD) untuk itu.

Dari paragraf diatas dapat disimpulkan bahwa UUD ada sebagai ‘simpulan’ dari kedaulatan rakyat. UUD itu dibuat oleh legislatif, dijalankan oleh eksekuif dan diawasi oleh yudikatif. Lalu bagaimana jika ada pertentangan dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD itu? Atau terdapat perselisihan antara tiga pemegang kekuasaan diatas? Tentunya hal itu kembali pada pemegang kekuasaan tertinggi atau kedaulatan untuk memutuskannya yaitu rakyat. Inilah ciri negara demokratis, ciri negara republik yang demokratis. Negara Indonesia seperti pohon mangga dengan batang yang kokoh, membelah menjadi tangkai-tangkai yang lebih kecil lagi dan akhirnya menjadi daun-daun hijau. Daun-daun hijau itulah yang memberi makan pada pohon itu, bukan batang pohon itu. Itulah negara republik.

Semua bagian pohon itu pada akhirnya harus ditopang oleh sebuah akar, sama seperti sebuah negara harus didasarkan pada sesuatu. Dasar negara adalah sebuah nilai yang dimiliki oleh rakyatnya (Hatta, Demokrasi Kita), memang dapat berupa suatu tujuan tapi syarat utamanya adalah ‘dimiliki’. Negara Indonesia memilki Pancasila sebagai dasar negara, nilai yang dimiliki oleh setiap rakyatnya. Ironi jika batang, tangkai dan daun melupakan akar yang melengkapi sebuah pohon.

Sebagai penutup tulisan kali ini, akan saya ambil sebuah kalimat dari salah satu bapak pendiri bangsa, mungkin dapat berhubungan dan mungkin juga tidak berhubungan dengan tulisan saya diatas.

“Merdeka 100% adalah satu jaminan buat terus merdekanya Indonesia. Tanpa merdeka 100%, Indonesia takkan bisa mengadakan kemakmuran cukup buat dirinya sendiri. Juga, Indonesia walaupun merdeka, tak akan bisa mempersenjatai dirinya sendiri, karena tak akan diberi kesempatan oleh kapitalisme assing buat mendirikan industri-berat nasional” – Tan Malaka

Merdeka

Sumber Bacaan:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s