Keadaan Indonesia di Akhir Tahun 2016

Tahun 2016 telah berganti menjadi tahun 2017. Seperti biasa, orang-orang mengucapkan selamat dan harapannya kepada tahun yang baru ini di media sosial. Tidak lupa umpatan orang-orang yang mengutuk tahun 2016 sebagai tahun yang penuh penderitaan. Tradisi diatas sebenarnya terus berlangsung dari tahun ke tahun. Mereka tidak pernah bosan, mungkin ini merupakan bentuk pemberontakan mereka.

Hal yang paling terlihat di akhir tahun ini adalah Ahok ‘Basuki Tjahaja Purnama’ yang diduga melakukan penistaan agama Islam. Hal ini diketahui setelah beredarnya potongan rekaman video saat Ahok mengunjungi Kepulauan Seribu. Pemerintah belum menetapkan Ahok sebagai tersangka hingga pada akhirnya peisitiwa 4-11 mencuat. Setelah peristiwa itu, pemerintah menetapkan Ahok sebagai tersangka. Entah mengapa, perisitwa ini malah menunjukkan rendahnya kewibaan pemerintah, seakan-akan, pemerintah bergerak jika suatu masalah dianggap rumit.

Yang lebih saya herankan lagi, setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Muncul kembali aksi  2-12 yang menuntut Ahok untuk dihukum. Hal yang ditakuti Plato dan Socrates terhadap demokrasi-pun muncul, demokrasi sudah menjadi mobokrasi. Demokrasi yang seharusya dijalankan oleh rakyat cerdas, sekarang sudah menjadi mobokrasi yang hanya digerakkan oleh rakyat yang merasa benar sendiri.

Setelah peristiwa itu, muncullah kebencian-kebencian antar rakyat golongan tertentu. Politikus dan Aktivis yang seharusnya menjadi air untuk memadamkan api tersebut malah menjadi kayu bakar yang menambah tinggi api tersebut. Jika dipikir-pikir, media sosial merupakan penyebab utama masalah ini. Kebebasan ber-ekspresi di media sosial memang baik, sangat baik malah. Namun ketidaksiapan rakyat untuk menerima suatu informasi ditambah dengan media sosial menjadikan bermunculannya berbagai berita palsu dan kebencian.

Menutup diri. Itu merupakan frasa yang tepat yang dapat saya ungkapkan. Seperti suku yang menutup diri dari luar sehingga menyebabkan tidak ada kemajuan teknologi dan pendidikan dari suku tersebut. Tidak diajarkannya Dialektika di sekolah juga merupakan masalah. Dialektika harus diajarkan di sekolah-sekolah agar membentuk masyarakat yang maju, bukan masyarakat yang melakukan Logical Fallacy di Internet. Untuk itu penting bagi pemerintah dan kita untuk mengedukasi rakyat Indonesia agar masalah SARA ini dapat terselesaikan. Akhir kata, Free Public Education.

Iklan

4 pemikiran pada “Keadaan Indonesia di Akhir Tahun 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s